Representasi Sosial Dan Nilai Moderasi Beragama Pada Kesenian Barongsai Di Kota Pangkalpinang
Main Article Content
Abstract
Penelitian ini menganalisis terkait representasi sosial dan nilai moderasi beragama pada kesenian barongsai yang ada di Kota Pangkalpinang. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1). Mengeksplorasi representasi sosial dan nilai moderasi beragama pada kesenian barongsai di Kota Pangkalpinang, dan 2). Mengeksplorasi upaya untuk mempertahankan eksistensi kesenian barongsai di era modern. Penelitian ini menggunakan teori representasi sosial yang dikemukakan oleh Stuart Hall sebagai pisau analisis penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Sumber data yang digunakan, yaitu sumber data primer dan data sekunder. Teknik penentuan informan menggunakan snowball sampling yang memungkinkan adanya responden potensial untuk dihubungi dan diwawancarai sesuai dengan topik penelitian yang diteliti. Teknik pengumpulan data melalui wawancara semi terstruktur, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1). Kesenian barongsai telah diterima dan menjadi bagian dari representasi budaya serta telah mengalami diskursus budaya yang mencerminkan moderasi beragama serta telah mengalami perkembangan sekaligus pergeseran makna dari hanya sekedar bagian dari tradisi keagamaan menjadi ekspresi dari adanya keberagaman dan inklusivitas, 2). Terdapat beberapa hal yang menunjukkan bahwa kesenian barongsai telah mempunyai konstruksi makna moderasi beragama, diantaranya pemain barongsai yang berasal dari lintas agama dan budaya, pertunjukkan barongsai tampil di acara lintas budaya dan agama, sering diadakannya perlombaan barongsai, dan berbagai sikap toleransi yang diterapkan dalam interaksi sehari-hari para pemain barongsai, 3). Adapun upaya yang dilakukan untuk terus mempertahankan eksistensi kesenian barongsai di era modern saat ini, diantaranya menumbuhkan motivasi bagi generasi muda agar bisa memunculkan bibit-bibit baru, mengadakan berbagai perlombaan barongsai, melibatkan barongsai dalam berbagai acara pariwisata dan budaya serta mempromosikan kesenian barongsai ini ke media sosial agar tidak tenggelam oleh kemajuan zaman dan bisa menjangkau masyarakat lebih luas.
Kata Kunci: Representasi Sosial; Moderasi Beragama; Kesenian Barongsai
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
References
Batubara, S. M. (2017). Kearifan Lokal dalam Budaya Daerah Kalimantan Barat (Etnis Melayu dan Dayak). Jurnal Penelitian IPTEKS, 2(1).
Deva, N. D. (2012). Partisipasi Masyarakat Pribumi dalam Kesenian Barongsai Cina di Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang. Skripsi Universitas Negeri Yogyakarta, 69–70.
Fazriadi, M. D. (2023). Pendaratan Incheon dalam Film Battle For Incheon Operation Chromite Karya Sutradara Lee Jae Han: Analisis Representasi Stuart Hall. Skripsi Universitas Nasional, 13–18.
Kusnandar, V. B. (2021, October 11). Sebanyak 89,99% Penduduk Bangka Belitung Beragama Islam pada Juni 2021. Databoks.Katadata.Co.Id. (Diakses pada 10 April 2024)
Latif, H. A. (2023, January 23). Keren!!! Barongsai Dimainkan Lintas Suku dan Agama. Kaltengpos.Jawapos.Com. (Diakses pada 7 Mei 2024)
Radja, I. G. S., & Sunjaya, L. R. (2024). Representasi Budaya Jember dalam Jember Fashion Carnival: Pendekatan Teori Representasi Stuart Hall. WISSEN: Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 2(3), 13–20.
Sholichah, I. M., Putri, D. M., & Setiaji, A. F. (2023). Representasi Budaya Banyuwangi Dalam Banyuwangi Ethno Carnival: Pendekatan Teori Representasi Stuart Hall. Education: Jurnal Sosial Humaniora Dan Pendidikan, 3(2), 32–42.